[Scroll down for English]

Presentasi proyek oleh TUHANTU
CEMETI x TUHANTU – bekerja dalam proses

Dengan: Aria Pradifta, Wok The Rock, Andhika Wicaksono, Okta Samid, Natasha Gabriella Tontey, Maria I. Uthe, Eleonora A. Yuanita, Sarah Rayhana

Sebagai bagian dari program setahun Maintenance Works, Cemeti mengundang kolektif desainer TUHANTU untuk bersama-sama memikirkan kembali identitas visual. Identitas visual sebuah organisasi erat kaitannya dengan visi dan misinya yang umumnya bertujuan untuk dapat mengkomunikasinya visinya pada khalayak secara luas. Dengan keterlibatan TUHANTU di dalam Maintenance Works sebagai "collective in house" yang telah berlangsung efektif selama kurang lebih tiga bulan, kami mencoba dan memikirkan kembali kemungkinan-kemungkinan identitas visual di masa depan bagi organisasi ini, yang berarti bahwa visi dan misi kami saat ini masih berubah-ubah. Supaya secara kritis memahami bagaimana identitas visual dapat dikaitkan dengan proses ini –dengan melontarkan beberapa pertanyaan, Cemeti mengundang TUHANTU untuk menjadi salah satu partner riset dan diskusi kami: CEMETI x TUHANTU. Proses desain mereka tidak terlepas dari program Cemeti, sebaliknya, TUHANTU tidak hanya mengikuti dan mengamati, tiap anggotanya melakukan riset secara aktif, mengadakan lokakarya dan diskusi, yang memberi gizi terhadap eksplorasi kami akan visi dan program baru Cemeti.

Penelitian TUHANTU sejauh ini melibatkan beberapa momen publik di mana mereka kemudian belajar dari, dan belajar bersama satu dengan yang lain. Mereka mengadakan sebuah lokakarya bagi mahasiswa ISI Yogya, di mana mereka mendiskusikan poster publikasi dari arsip lama Cemeti –yang dapat kalian lihat dalam presentasi kali ini sebagai display arsip beranotasi. TUHANTU juga mengadakan workshop dengan tim Cemetiyang mana kami kemudian bersama-sama membayangkan sebuah “masa depan yang utopis” bagi Cemeti, hasil dari aktivitas ini membuahkan berbagai koleksi tempelan catatan serta diagram.

Beberapa diskusi kami (terutama riset TUHANTU pada esai akademisi Boris Groys mengenai ‘self-design’) pada waktunya telah memicu Cemeti untuk menyelenggarakan pemutaran film” Century of the Self, sebuah documenter mengenai penemuan akan hubungan masyarakat dan periklanan, muncul dari sebuah percakapan kami terhadap gagasan ‘self-design’. Self-design mengacu pada kenyataan bahwa untuk menggunakan kata-kata yang kerap digunakan oleh Groys: “saat ini kita hidup di bawah rezim self-design yang kompulsif dan self-simulation yang kompulsif” [full tekst di sini]. Mengenai swafoto misalnya, linimasa Instagram kita ataupun baju apa yang akan kita pakai hari ini: kita mencipta ulang diri kita sendiri dalam kehidupan sehari-hari untuk disajikan pada penonton yang kita sendiri pun belum tentu tahu mereka siapa, yang penting membuat kita merasa berada di dunia ini. Pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana desain atau desainer mempertanyakan self-image ini, yang semakin kesini semakin ‘nyata’ dan tak nampak seperti sekedar sebuah gambar? Ini adalah pertanyaan yang menarik untuk eksplorasi yang lebih jauh sembari memikirkan masa depan representasi diri Cemeti itu sendiri.

Selain acara semi-publik ini, TUHANTU menciptakan identitas visual sementara di awal Maintenance Works untuk digunakan sepanjang tahun ini termasuk logo sementara, website (www.cemeti.org), template surel dan satu set ‘peraturan’. Sejalan dengan semangat Maintenance Works, sebuah proyek revisi terbuka untuk Cemeti. TUHANTU mengeksplorasi gagasan ‘default’, yang dapat digambarkan sebagai “peraturan preset atau nilai yang akan digunakan jika tidak ada pilihan lain” [Wikipedia]. Dengan prinsip ini, Cemeti kembali pada pengaturan ‘default’ sebanyak mungkin. Contohnya saat kita bekerja dengan perangkat lunak atau program tertentu, kami menggunakan tipografi default; atau jika berurusan dengan kartu nama sementara, TUHANTU mengacu pada penggunaan kertas apa yang umumnya digunakan. TUHANTU memperluas gagasan default dari sistem desain ke ruang fisik. Dimulai dengan spanduk yang biasanya digunakan Cemeti untuk publikasi pameran, TUHANTU mendokumentasikan warna dan tipografi yang paling sering digunakan oleh para penjual di pinggir jalan. Warna-warna yang umum ini kemudian digunakan sebagai skema warna spanduk Maintenance Works, dan juga sebagai struktur display fisik.

Berawal dari ide bahwa selama Maintenance Works berlangsung, Cemeti akan berhenti melakukan aktivitas daring, website misalnya –namun Cemeti tetap terbuka bagi umum; TUHANTU mengusulkan dua gambar untuk logo sementara CEMETI. Keduanya membawa pesan yang sama: ‘gambar tidak tersedia’. Untuk keperluan daring, kami menggunakan ikon persegi yang umum dengan gunung dan matahari di dalamnya; sedangkan untuk materi cetak, kami menggunakan tanda silang berwarna biru muda yang bisa dikenali dari program InDesign dan Adobe Illustrator.

Pada boks lampu Cemeti di depan, kami menggunakan gambar terbaru dan menutupi tanda silang tadi dengan lakban hitam, yang mana terkadang menciptakan kebingungan yang juga menarik untuk dipikirkan. Dalam presentasi kali ini, yang menandai puncak residensi TUHANTU selama tiga bulan yang intens di Cemeti. Boks lampu telah dirubah: masih terdapat sebuah gambar yang sedang memuat, dalam proses. Ini tidak hanya mencerminkan keadaan fluks yang sedang terjadi di Cemeti, namun juga di TUHANTU, di mana kolaborasi kami bergerak menuju fase selanjutnya dengan misi, program, identitas visual, dan situs web akan diluncurkan pada bulan Februari 2018. Dan akan ada lebih banyak hal lagi ke depannya.

Aktivitas pembukaan pada hari Selasa 30 Mei 2017
16.00 Pembukaan
16.45 Pemasangan properti oleh pengunjung
17.30 Buka Puasa
18.30 Diskusi dapur oleh TUHANTU

Proyek ini didukung oleh Dinas Kebudayaan Propinsi DIY.

Biografi TUHANTU
TUHANTU adalah kolektif bagi desain komunikasi visual, yang aktivitasnya meliputi proyek seni dan pameran, lokakarya, kelompok studi serta karya desain komersial, dan banyak lagi. Ini berlaku secara keseluruhan, maupun bagi masing-masing anggotanya. TUHANTU menggunakan desain sebagai metode kerja dan alat kerja bagi proyek seni. Saat ini, dengan beberapa anggota yang berdomisili di Yogyakarta, beberapa di Jakarta dan beberapa sedang berada di luar negeri, TUHANTU bereksperimen dengan berbagai cara kerja yang lebih kasual, menggunakan keberadaan fisik dan ruang virtual (tidak terpaku pada satu lokasi tertentu dan pada platform digital), menggunakan Skype dan alat komunikasi lainnya, menanamkan seni kontemporer dan praktik desain dengan cara-cara konvensional seperti menggambar atau mencoret-coret. Anggota TUHANTU saat ini adalah: Wok The Rock, Andhika Wicaksono, Aria Pradifta, Okta Samid, Natasha Gabriella Tontey, Maria I. Uthe, Eleonora A. Yuanita and Sarah Rayhana.

-------

Project presentation by TUHANTU
CEMETI x TUHANTU - work in progress

With: Aria Pradifta, Wok The Rock, Andhika Wicaksono, Okta Samid, Natasha Gabriella Tontey, Maria I. Uthe, Eleonora A. Yuanita, Sarah Rayhana

As part of our current yearlong programme Maintenance Works, Cemeti invited the design collective TUHANTU to rethink Cemeti’s visual identity together. An organisation’s visual identity is intricately tied to its vision and mission and usually has the aim to communicate that vision to a larger audience. With Maintenance Works, which has been going for roughly three months now, we try and rethink possible futures for the organisation, which means our vision and mission are in flux. TUHANTU, as an “in-house collective” actively participates in this process.

To critically understand how a visual identity could relate to this process –not only by broadcasting but by asking questions for instance–, Cemeti invited TUHANTU to become one of our research and discussion partners: CEMETI x TUHANTU. Their design process is not divorced from Cemeti’s program, on the contrary: TUHANTU doesn’t just follow and observe, but its members do active research, organise workshops and exchanges, which feeds into our own exploration of Cemeti’s new vision as well as into the program.

TUHANTU’s research has so far entailed several public moments in which they learn from and with others. They for instance organised a workshop for students from Institut Seni Indonesia, the Yogyakarta art academy, in which they looked and discussed publicity posters from Cemeti’s archive –which in this presentation you can find as an annotated archive display. TUHANTU also did a workshop with the Cemeti team in which we together envisioned a “utopic future” for Cemeti, resulting in a collection of sticky notes and diagrams.

Some of our discussions (especially TUHANTU’s research on an essay by scholar Boris Groys about “self-design”) in turn triggered Cemeti to organise events: the film screening of Century of the Self, a documentary about the invention of public relations and advertising, came from a conversation we had about the notion of “self-design”. Self-design refers to the fact that, to use the words of Groys: “today we live under a regime of compulsive self-design and compulsive self-simulation” [full text here]. Think of selfies, our Instagram feed or what we choose to wear: we recreate ourselves on a daily basis for a spectator we do not necessarily know but who gives us a sense of being in the world. The question that can be asked is: how can design or designers question this self-image, which is becoming more and more “real” and less like an image everyday? It is an interesting question to further explore whilst thinking of Cemeti’s own future self-representation.

Aside from these (semi-)public events, TUHANTU created a temporary visual identity at the start of Maintenance Works to use throughout the year, including a temporary logo, emailing template and a set of “rules”. In line with the spirit of Maintenance Works, an open process of revisioning Cemeti, TUHANTU explored the notion of “default”, which can be described as “a preset setting or value that will be used if no choice is done” [Wikipedia]. Taking this as a leading principle for this year, Cemeti falls back on “default” settings as much is possible. For instance: when working with a particular software or program, we use the default typography; or for printing temporary business cards, TUHANTU looked at what paper is usually used for this purpose. TUHANTU extended the idea of default from digital design systems to physical space. Starting from the banners Cemeti usually produces for their exhibitions, TUHANTU documented the colours and typography most often used for banners by street sellers or food stalls: yellow and red. These common colours were then used as the colour scheme for the Maintenance Works banner as well as for any physical display structures.

Starting from the idea that during Maintenance Works, Cemeti is offline, like a website, but open to the public; TUHANTU proposed two images for Cemeti’s temporary logo that both convey the same message: “no image available”. For online purposes, we use the well-known square icon of a stylized mountain range and a sun; while for printed materials, we use the light blue cross one might recognize from the program InDesign and Adobe Illustrator.

On the light box in Cemeti’s front garden, we used the latter image and put up a cross in black tape, sometimes creating interesting confusion. For this presentation, which marks the culmination of a three-month intensive residency by TUHANTU at Cemeti, the light box’s image is changed: there is an image available, but it is still loading, buffering, in process. It mirrors not only Cemeti’s state of flux, but also TUHANTU’s, while our collaboration moves onto the next phase, with Cemeti’s new mission, programme and visual identity to be launched in February 2018. More soon.

This project is generously supported by the Cultural Department of Yogyakarta Province (Dinas Kebudayaan).

Biography TUHANTU
TUHANTU is a collective for visual communication design, whose activities include art projects and exhibitions, workshops, study groups as well as commercial design work, and more. This goes for the cooperative as a whole, as well as for the individual members. TUHANTU applies design as a working method and as a tool for art projects. Currently, with some the members being based in Yogyakarta, some in Jakarta and some being in and out of the country, TUHANTU is experimenting with ways of working, that are more informal, using existing physical and virtual spaces (not being centred in one location or digital platform), using Skype and other tools for communication, infusing contemporary art and design practices with conventional/vernacular methods such as drawing or doodling. Current members of TUHANTU are: Wok The Rock, Andhika Wicaksono, Aria Pradifta, Okta Samid, Natasha Gabriella Tontey, Maria I. Uthe, Eleonora A. Yuanita and Sarah Rayhana.

http://www.cemeti.org/files/gimgs/th-23_header_email-05-1.jpg