[Scroll down for English]

Unsettling Time(s)
Kin Chui | Agan Harahap

Pameran, bincang seniman dan rangkaian diskusi di Cemeti dalam kerangka program pertukaran residensi bersama Objectifs (Singapura).

12-27 Juli 2017

Pembukaan: Rabu, 12 Juli 2017, jam 19.00
Bincang seniman bersama Kin Chui dan Agan Harahap: Rabu, 26 Juli 2017, jam 19.00
Seri diskusi: silakan berkunjung ke laman Facebook kami untuk rincian acara dan informasi terbaru

Silakan bergabung dengan kami pada hari Rabu, 12 Juli 2017, jam 19.00 pada acara pembukaan pameran bertajuk Unsettling Time(s). Pameran ini akan menampilkan karya dua seniman, yaitu Kin Chui (Singapura) dan Agan Harahap (Indonesia). Kedua seniman ini terlibat dalam sebuah program pertukaran residensi yang diinisiasi oleh Objectifs Centre for Photography and Film di Singapura, bersama dengan Cemeti - Institut untuk Seni dan Masyarakat sebagai rekan di tahun 2017. Pada bulan Januari/Februari 2017, Agan Harahap tinggal selama empat minggu di Objectifs di Singapura. Kemudian bulan Juni ini, Kin Chui tinggal bersama kami di Cemeti dan melakukan penelitiannya bersama asisten program, Adhiwinanto Semali.

Pameran Unsettling Time(s) mempresentasikan satu proyek dari masing-masing seniman, yaitu Performing Coloniality (2014) karya Kin Chui dan Mardijker Photo Studio (2014-) karya Agan Harahap. Dengan caranya sendiri, kedua proyek ini merefleksikan sejarah kolonial, dengan menggunakan gambar arsip sebagai sebuah titik pangkal untuk mempertanyakan dan untuk mengganggu kemapanan narasi. Dengan melakukan hal tersebut, terlihat bagaimana struktur kekuasaan yang ditetapkan selama pendudukan kolonial bertahan sampai sekarang.

Karya Performing Coloniality yang diciptakan oleh Kin Chui merupakan sebuah instalasi video multi kanal yang diproyeksikan di atas layar tembus pandang yang digantung dari langit-langit. Karya ini menghubungkan masa dan narasi yang tampaknya terpisah, mempertanyakan peran arsip sebagai suatu rekaman sejarah yang “ilmiah” dan peran tubuh manusia yang menjadi tempat berdiamnya ingatan. Karya ini dimulai dari sebuah foto bersejarah yang ditemukan di Lembaga Arsip Nasional di Inggris dan Singapura, yang kemudian ditampilkan sebagai sebuah gambar diam di satu layar. Layar kedua menampilkan sebuah pemeragaan kembali kontemporer dimana terdapat tiga aktor yang menirukan sikap dari protagonis yang terdapat di dalam foto. Sementara di latar belakang terdapat beberapa orang laki-laki yang mengenakan jas hujan tampak sibuk mengatur dekorasi yang seolah-olah alami. Layar ketiga menampilkan kru film yang membelakangi latar belakang kota Singapura yang terkenal. Dalam naskah dua lipat, Kin Chui merangkai berbagai masa dan tempat yang berbeda, mempertanyakan sejarah kolonial dan sejarah kontra mana yang telah tertanam dalam kehidupan sehari-hari kita, yang telah mengendap menjadi kode sosial dan tradisi, narasi yang mana yang dipinggirkan dan dimanakah narasi yang tidak pernah terdengar dan dibungkam? Terutama, bagaimana warisan kolonial ini membentuk Singapura dan Asia Tenggara di masa kini?

Karya Mardijker Photo Studio yang diciptakan oleh Agan Harahap menampilkan narasi kuasi sejarah sebagai sebuah koleksi foto potret yang menggambarkan sebuah komunitas yang disebut ‘Mardijker’. Komunitas ini merupakan keturunan dari para budak yang tersebar pada masa penjajahan Portugis dan tinggal di kota-kota pelabuhan seperti Batavia (sekarang Jakarta). Istilah ini berkembang saat Belanda memperkenalkan kebijakan passenstelsel (kartu identitas) yang mewajibkan orang-orang ini untuk berteriak “Mardijker!” sebagai indikator status. Karya ini menampilkan versi lain dari “fakta” sejarah dengan membaurkan fakta dengan fiksi dimana Agan Harahap membuat kolase dan menyunting arsip-arsip foto dari arsip milik Tropenmuseum (Amsterdam), menunjukkan potret penjajah dalam busana lokal dan potret orang-orang lokal dalam busana ala Eropa di masa itu. Dengan membalik sudut pandang, karya ini mengintervensi dan menantang narasi sejarah, serta memancing kita untuk mempertanyakan posisi kita dalam masyarakat kontemporer. Agan Harahap seringkali menyebarkan karya fotonya, termasuk Mardijker Photo Studio di media sosial bernama Sejarah_X.

Dalam kerangka pameran ini dan masa residensi Kin Chui, Cemeti akan mengadakan rangkaian obrolan dan diskusi mengenai pascakolonialisme dan praktik dekolonialisasi bersama dengan peneliti, akademisi, seniman, penulis, dan praktisi lain.

Residensi Kin Chui dan Agan Harahap merupakan bagian dari program pertukaran residensi Objectifs (Singapura) tahun 2017.

-------------------------------------------------------

Unsettling Time(s)
Kin Chui | Agan Harahap

Exhibition and artist talk at Cemeti in the framework of Objectifs (Singapore) residency exchange programme.

12-27 July 2017

Opening: Wednesday 12 July 2017, 19.00 hrs
Artist talk with Kin Chui and Agan Harahap: Wednesday 26 July 2017, 19.00 hrs
Discussion series: please see our Facebook page for more information and updates

You are warmly invited to join us on Wednesday 12 July 2017, 19.00 hrs for the opening of Unsettling Time(s), an exhibition of work by the artists Kin Chui (Singapore) and Agan Harahap (Indonesia). Both artists participanted in a residency exchange program initiated by Objectifs Centre for Photography and Film in Singapore, with Cemeti – Institute for Art and Society as its 2017 partner. Between January and February 2017, Agan Harahap spent four weeks at Objectifs in Singapore. This month, Kin Chui is staying with us at Cemeti, conducting his research with support of program assistant Adhiwinanto Semali.
 
The exhibition Unsettling Time(s) presents one project by each artist: Kin Chui’s Performing Coloniality (2014) and Agan Harahap’s Mardijker Photo Studio (2014-). In their own way, both projects reflect on colonial histories, using archival images as a starting point to question and confuse established narratives. In so doing the works make visible how power structures laid down during colonial occupation persist today.
 
Performing Coloniality by Kin Chui is a multi-channel video installation projected on translucent screens that hang from the ceiling. The work links up seemingly disparate times and narratives, questioning the role of the archive as a “scientific” record of history and the role of the human body, where memory sits. The work starts from a historical photograph found in The National Archives of the UK and Singapore, which is presented as a still image on a screen. A second screen shows a contemporary reenactment: three actors copy the pose of the protagonists in the photograph, whilst in the background; men in plastic coats are busy arranging the seemingly natural decor. The last screen shows the film crew against a backdrop of the all to familiar high-rise of Singapore. In a two-fold script, Kin Chui weaves together different times and places, questioning which colonial histories and counter-histories have become engrained in our daily lives, have become sedimented as social codes and traditions, and which narratives were moved to the periphery, where they remain unheard, silenced? And importantly, how do these colonial legacies shape the present-day of Singapore and Southeast Asia?

Agan Harahap’s Mardijker Photo Studio presents quasi-historical narratives as a collection of portrait photographs depicting a community called the Mardijkers, descendants of a dispersed community of slaves during Portuguese colonial time who settled down in port cities such as Batavia (present-day Jakarta). The word became more widespread when the Dutch introduced the passenstelsel (identity cards) policy, requiring them to raise their hands and shout “Mardijker!” as a status indicator. The work displays its own version of historical “facts” by mixing fact with fiction: Harahap collaged and edited archival photographs from the Tropenmuseum archives (Amsterdam), showing colonizers in local dress and local people in European costumes of the time. By turning the tables, the work intervenes and challenges historical narratives and makes us question our position within contemporary society. Agan Harahap often distributes his photographs, including Mardijker Photo Studio, on social media under the name Sejarah_X (History X).

In the framework of this exhibition and Kin Chui’s residency period, Cemeti will organise a series of talks and discussions on postcolonialism and decolonizing practice with researchers, academics, artists, writers, and other practitioners. 

Kin Chui and Agan Harahap's residencies are part of the Objectifs (Singepore) residency exchange program with Cemeti acting as 2017 international partner.

http://www.cemeti.org/files/gimgs/th-24_Schermafbeelding 2017-07-08 om 12_42_37.png