[Please scroll down for English and for photo documentation]

Bergulir!
Bergetar!
Bertabrakan!

Laura Marsh | Yosefa Aulia | Kevin van Braak

Pameran, presentasi dan aktivitas lainnya oleh seniman residensi, periode #1 2017

Pembukaan: Selasa, 23 Mei 2017, jam 19.00
Diskusi publik: Jumat, 26 Mei 2017, jam 19.00

Aktivitas lainnya oleh seniman residensi
Sabtu, 20 Mei – Sabtu, 27 Mei 2017, mulai jam 09.00 – 17.00
Pencetakan Pentagonal Icositetrahedron oleh Kevin van Braak

Selasa, 23 Mei 2017, jam 15.00
Pertandingan Smashing Cocks oleh Yosefa Aulia

Rabu, 24 Mei 2017, jam 15.00
Percakapan di Jogja Jacuzzi oleh Laura Marsh

Dari 23 Mei sampai 31 Mei 2017, Cemeti menyajikan Bergulir! Bergetar! Bartabrakan!, pameran dan presentasi dari seniman residensi: Laura Marsh (New Zealand), Yosefa Aulia (Indonesia) dan Kevin van Braak (Belanda). Dengan dukungan tim Cemeti, asisten program Dian Larasati dan Elizabeth Kamaratri, serta berbagai komunitas di Yogya yang telah membantu Yosefa, Laura, dan Kevin memahami kota dan lapisan realitas sosial politiknya. Dari perkenalan yang meluas ini, ketiga seniman residensi mengembangkan penelitiannya sendiri, yang kemudian akan dipresentasikan dalam bentuk pameran dan beberapa acara lainnya di Cemeti. Masing-masing karya menciptakan suatu bentuk arena tersendiri dimana beragam isu dapat diperbincangkan atau dimainkan dengan partisipasi publik dan komunitas tertentu yang diundang. Karya tersebut meliputi:

Dengan gaya yang sering kali humoris, Yosefa Aulia menjelajah, menampakkan dan mengganggu norma-norma sosial serta hirarki yang ada. Mulai dari relasi dosen-mahasiswa di sekolah seni di Bandung, hingga interaksi yang berlangsung di jalanan kota Bangkok. Selama masa residensinya di Cemeti, Yoshi tertarik dengan pertanyaan seputar kuasa dan penempatan (positioning). Bagaimana kedua hal ini terhubung pada gairah dan dorongan bawah sadar, serta bagaimana gairah-gairah tersebut mengungkapkan dirinya lewat ekspresi wajah dan gestur yang tidak terkontrol. Secara khusus, ia menaruh perhatian pada permainan sebagai sebuah arena dimana situasi dalam kehidupan nyata dapat dimainkan. Selama proses penelitiannya, ia membicarakan pemikirannya dengan seorang aktor pantomim, menghadiri latihan Teater Garasi, dan mengamati beberapa pertandingan sabung ayam hingga mendokumentasikan ekspresi dan gerakan dari para hadirin. Karya yang ditampilkannya pada residensi ini meliputi pertandingan bertajuk Smashing Cocks dimana para pemain diberi sebuah figur tanah liat yang dibuat sendiri olehnya dan dipasang pada sebuah mobil remote control. Tujuan permainan ini adalah untuk menghancurkan ‘jago’ (cock) lawannya. Sementara para penonton bertaruh pada keberuntungan pemainnya. Pada bulan kedua, Yoshi menguji edisi percontohan permainan ini. Dari uji coba ini, ia belajar bahwa permainan semacam ini menyediakan ruang bagi alam bawah sadar untuk muncul, sementara di saat yang bersamaan mendorong pertanyaan lain mengenai aturan permainan, yang mempertanyakan: “apakah arti kemenangan?”. Instalasi yang dihasilkan dari karya ini menampilkan dokumentasi video dari permainan tersebut; sebuah diagram foto dari para pemain yang diambil sebelum pertandingan berupa ekspresi saat mereka membayangkan dirinya sebagai pemenang; chip taruhan; arena dan patung-patung yang hancur oleh proses pertandingan. Instalasi ini menyerahkan pengunjung untuk membayangkan energi yang telah dilepaskan selama permainan berlangsung dan cara untuk menangkap kisah yang tersisa mengenai kemenangan, kekalahan, dan pertarungan yang muncul sebelumnya. Kisah-kisah yang membentuk demikian banyak sejarah kita.

Yosefa Aulia (Palembang, 1991) lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain di Institut Teknologi Bandung pada tahun 2014. Ia tinggal dan berkarya di Bandung sebagai perupa tunggal. Ia pernah terlibat dalam berbagai program residensi lokal dan internasional, antara lain ‘Kaleidoskop’ di Yogyakarta (2015) dan Tentacles x Yet Space di Bangkok (2016).

Laura Marsh berkarya dengan menggunakan berbagai macam bahan dan medium, mulai dari kain hingga video. Disamping praktiknya sebagai seniman, ia juga bekerja sebagai DJ Laura Lush, memandu siaran di sebuah radio lokal di Auckland, New Zealand. Salah satu pertanyaan yang muncul saat ia datang untuk pertama kalinya di Jogja adalah bagaimana caranya menghubungkan kedua elemen yang dipisahkan dari kehidupan “profesional”nya. Selama masa residensinya, Laura menguji coba beragam cara berkarya dan cara menjadi, mengidentifikasi sejumlah persoalan tertentu yang muncul dari perjumpaannya dengan konteks Yogyakarta. Dari ragam persoalan ini, ia mengembangkan rangkaian katalis untuk percakapan dalam bentuk tiga proyek tunggal namun saling tumpang tindih, yang membicarakan gagasan tentang ‘tanggung jawab’. Antara lain dengan menjadi Petugas Keamanan Yogyakarta yang pertama, memunguti sampah di pantai Parangtritis, dan menginisiasi Klub Dansa khusus untuk perempuan Vibrating Vagina. Demikianlah, Jogja Jacuzzi pun diciptakan sebagai ruang percakapan mengenai makna dari tindakan-tindakan tersebut dan pengalaman yang muncul. Laura bekerja dengan pengrajin lokal untuk membuat struktur bambu oktagonal ini dan kain batik penutup dudukan sofa. Orang-orang dari skena seni Jogja bergabung dengannya di dalam Jogja Jacuzzi untuk membahas persoalan sosial yang ditimbulkan oleh aksinya dan berbagi sudut pandang sebagai sebuah bentuk pertukaran pengetahuan lintas budaya. Klub Dansa khusus perempuan, Vibrating Vaginas, menciptakan sebuah ruang ‘bebas’ bagi perempuan dan menjadi katalis bagi percakapan tentang feminisme dan pengalaman sosial perempuan dalam masyarakat kontemporer. Dengan menggunakan keamanan pribadi sebagai contoh, karakter Petugas Keamanan (dengan kostum dan perlengkapannya sendiri) Laura menjadi suatu latihan dalam memahami bagaimana dan mengapa sudut pandang lintas budaya bisa jauh berbeda. Reaksinya terhadap lingkungan yang penuh sampah di Indonesia menjadi sebuah aksi memunguti sampah dari pantai Parangtritis. Laura menjadi sebuah sosok tunggal yang mencoba memberikan contoh tentang “perilaku yang bertanggung jawab”, namun menyoroti kesia-siaan dari tindakan asing itu. Jogja Jacuzzi tetap tinggal di ruang pameran, tidak hanya sebagai after-image dari peristiwa yang berlangsung sebelumnya, melainkan sebagai sebuah katalis untuk percakapan berikutnya, gerakan-gerakan dansa, dan bentuk-bentuk komunalitas.

Laura Marsh (Dunedin, 1978) berasal dari Kepulauan Selatan. Ia tinggal dan berkarya di Auckland, New Zealand. Pada tahun 2006, ia belajar Film di the Ilam School of Fine Arts dan meraih gelar Master of Art and Design (Visual Arts) di AUT pada tahun 2010. Sebelumnya, ia pernah berpartisipasi dalam program residensi di Campos des Gutierrez in Medellin, Colombia (2013) dan di Olivia Spencer Bower Award & Residency in Christchurch/Dunedin, New Zealand (2012).

Dalam praktik berkaryanya, Kevin van Braak membicarakan situasi sosial politik baik yang sedang dan telah berlangsung dengan beragam cara. Mulai dari mereplika meja kerja para pemimpin diktator yang bersejarah, hingga menciptakan sebuah pertunjukan wayang kulit yang kisahnya bermula dari sejarah keluarganya, dan juga menciptakan sebuah bengkel kerja untuk kayu yang berfungsi sepenuhnya untuk produksi kolaboratif. Penggunaan ruang dari karyanya ini sebagai suatu platform kolektif adalah sesuatu yang dijelajahi secara lebih lanjut oleh Kevin selama masa residensinya di Cemeti. Ia mengubah sebuah bentuk cembung geometris, Pentagonal Icositetrahedron, menjadi sebuah patung kayu jati dengan nama yang sama. Untuk ke-24 permukaan patung tersebut, ia mengundang 24 seniman dan aktivis dari Yogyakarta yang merepresentasikan berbagai isu sosial politik yang teredam dalam karya mereka, untuk memberikan sebuah drawing atau karya cukil kayu. Setiap karya kemudian dicukil di masing-masing permukaan dan digabungkan dengan bantuan pembuat perabot lokal. Selama masa penelitiannya, Kevin berjumpa dengan sejumlah seniman dan pekerja LSM untuk membentuk sebuah pemahaman dari isu-isu yang dipertaruhkan secara lokal. Penelitian ini membentuk sebuah bagian esensial dari proyek tersebut, demikian halnya dengan proses mengumpulkan karya dan menciptakan kesadaran mengenai isu-isu mendesak di dalam kota. Selama masa pameran, Kevin akan menciptakan sebuah bengkel pencetakan dengan Pentagonal Icositetrahedron yang berfungsi sebagai blok pencetakan beraneka segi. Pengunjung dapat meminta satu cetakan yang ketika dibuat akan digantungkan hingga kering dalam suatu instalasi. Setelah kering, pengunjung dapat membawa pulang hasil cetakan tersebut. Melalui aksi pencetakan untuk publik ini, Kevin bertujuan untuk menyediakan sebuah konteks dinamis bagi berlangsungnya percakapan dan untuk menciptakan kesadaran bersama mengenai isu-isu yang dimunculkan oleh seniman yang telah terlibat.

Para seniman yang terlibat, yang tanpa energi dan kepercayaannya, proyek ini tidak akan terwujud: Agung Kurniawan, Akiq AW, Antitank, Bayu Widodo, Djuadi, Deni Rahman, Ervance ‘Havefun’ Dwiputra, Fitri DK, Hestu Setu Legi, Ipeh Nur, Isrol Triono (Media Legal), Ignasius Dicky Takndare, Julian ‘Togar’ Abraham, Maryanto, Muhammad ‘Ucup’ Yusuf, Naomi Srikandi, Needle and Bitch, Onyenho, Pandai Api Sebumi, Prihatmoko Moki, Rangga Lawe, Satoto Budi Hartono, Timoteus Anggawan Kusno, Yudha Sandy.

Kevin van Braak (Belanda, 1975) tinggal dan berkarya di Amsterdam. Ia pernah terlibat dalam berbagai pameran, antara lain SONSBEEK ’16: transACTION di Arnhem, Belanda (dikuratori oleh ruangrupa, 2016); Kunstverein Salzburg, Austria (2015); Sismografo, Porto, Portugal (2014); the Museum of Contemporary Art, Belgrade (2014).

-----

Bergulir!
Bergetar!
Bertabrakan!

Laura Marsh | Yosefa Aulia | Kevin van Braak

Exhibition, presentation and other activities by artists-in-residence, period #1 2017

Opening: Tuesday, 23 May 2017, 19.00 hrs
Public discussion: Friday, 26 May 2017, 19.00 hrs

Artist-led activities
Saturday 20 May – Saturday 27 May 2017, 09.00-17.00 hrs
Daily Pentagonal Icositetrahedron printing by Kevin van Braak

Tuesday, 23 May 2017, 15.00 hrs
Smashing Cocks tournament by Yosefa Aulia

Wednesday 24 May 2017, 15.00 hrs
Conversation in the Jogja Jacuzzi by Laura Marsh

From 23 May until 31 May 2017, Cemeti presents Bergulir! Bergetar! Bartabrakan! [“Rolling! Vibrating! Smashing!”], the exhibition and presentation by our current artists-in-residence: Laura Marsh (New Zealand), Yosefa Aulia (Indonesia) and Kevin van Braak (the Netherlands). Supported by the Cemeti team, programme assistants Dian Larasati and Elizabeth Kamaratri and Yogya’s community, Yosefa, Laura and Kevin got to know the city and its layered socio-political reality. From this expansive introduction, the artists developed their own research, which is now presented in the form of an exhibition and several events at Cemeti.

Each of the works creates a form of arena in which different issues can be discussed or played out with the participation of the public and specific invited communities. This includes:

In often-humorous ways, Yosefa Aulia explores, makes visible and disrupts existing social norms and hierarchies; from the teacher-student relationship in art school in Bandung, to interactions on the streets of Bangkok. During her residency at Cemeti Yoshi became interested in questions around control and positioning, how these relate to subconscious desires and urges and how such desires reveal themselves in uncontrolled facial expressions and gestures. In particular she focused on games as an arena in which real life situations are played out. During her research she discussed her thoughts with a local mime, was present at rehearsals of Teater Garasi and observed cockfights, documenting the expressions and movements of those present. Her work for this residency involves the tournament Smashing Cocks in which players are given a terracotta figure, sculpted by the artist and mounted onto a remote controlled car. The goal of the game is to smash the other player’s ‘cock’, while the audience bet’s on the player’s fortunes. In the second month, Yoshi tested a pilot edition of the game. Through this test she learned that such a game provided space for the subconscious to emerge, while at the same time spurring a questioning of the rules of the game, asking: “what is winning?”. The resulting installation shows video documentation of the game; a diagram of photographs of the players while they envision and perform their own expression as a winner before the game took place; the betting chips; the arena and the shattered figurines. It leaves the visitor to wonder about the energy that was released during the game and how to capture the lingering stories of winning, loosing and the fight that came before, stories that make up so much of our histories.

Yosefa Aulia (Palembang, 1991) graduated from the Faculty of Fine Arts and Design at the Bandung Institute of Technology (ITB) in 2014. She lives and works in Bandung as a solo artist. She has been involved in various local and international residency programs, including Kaleidoskop in Yogyakarta (2015) and Tentacles x Yet Space in Bangkok (2016).

Laura Marsh works with a variety of materials and media, from fabric to video. Next to her practice as an artist, Laura works as DJ Laura Lush, hosting a radio show in Auckland, New Zealand. One of the questions Laura raised when she first arrived in Jogja was how to connect these two seemingly divorced elements of her “professional” life. During her residency, Laura tested out various modes of working and being, identifying a range of specific concerns from her encounters with the context of Yogyakarta. From these she developed a series of catalysts-for-conversation in three singular but overlapping projects addressing notions of ‘responsibility’: becoming Yogyakarta’s first Safety Officer; picking up rubbish from Parangtritis Beach; and initiating a women-only dance club. The Jogja Jacuzzi was created as a space for conversation about the meaning of these actions and experiences. Laura worked with local craftsmen to make the octagonal bamboo structure, and the batik fabric seat covers. People from the Jogja art scene joined her in the Jogja Jacuzzi to discuss the social matters raised by her actions and share their personal perspectives as cross-cultural knowledge exchange. The women-only Vibrating Vaginas Dance Club created a ‘free’ space for women, and became a catalyst for conversation about feminism and the social experiences of women in contemporary society. Using personal safety as an example, Laura’s Safety Officer character (with its own official uniform), was an exercise in understanding how and why perspectives can be so different across cultures. Her reaction to Indonesia’s rubbish filled environment became an action of picking up rubbish off of Parangtritis beach, Laura becoming a solitary figure attempting to set an example of “responsible behaviour”, yet highlights the futility of such an isolated action. The Jogja Jacuzzi remains in the exhibition space, not only as an after-image of past events, but as a catalyst for future talks, dance moves and forms of communality.

Laura Marsh (Dunedin, 1978) comes from the South Island. She lives and works in Auckland, New Zealand. In 2006, she studied Film at the Ilam School of Fine Arts and then continued to a Master of Art and Design (Visual Arts) at AUT in 2010. She has previously participated in the residency programme at Campos des Gutierrez in Medellin, Colombia (2013) and in the Olivia Spencer Bower Award & Residency in Christchurch/Dunedin, New Zealand (2012).

In his practice, Kevin van Braak addresses sociopolitical situations both past and present; from replicating the desks of historical dictators’, to creating a wayang kulit performance tracing his family’s history, to creating a fully functioning wood workshop for collaborative production. The use of his work as a collective platform is something Kevin has further explored during this residency. He converted a geometric convex shape, a Pentagonal Icositetrahedron, into a three-dimensional teak wood sculpture carrying the same name. For the sculpture’s 24 surfaces he invited 24 artists and activists from Yogyakarta, who represent various pressing sociopolitical issues in their work, to contribute one drawing or woodcut. Each work was carved onto one of the surfaces and assembled with the help of a local furniture maker. During Kevin’s research he met with artists and NGO workers to form an understanding of the issues at stake locally. This research forms an essential part of the project, as does the process of collecting the works and creating awareness about urgent issues in the city. For the duration of the exhibition, Kevin will create a fully functioning print workshop, with the Pentagonal Icositetrahedron acting as a multifaceted printing block. Visitors can request a print that, once made, will be hung to dry in the installation. When dry, visitors can take their print home. Through this act of public printing Kevin aims to provide a dynamic context for conversations to take place, and to create awareness about the issues raised by the participating artists.

Participating artists, without whose energy and trust this project would not exist, are: Agung Kurniawan, Akiq AW, Antitank, Bayu Widodo, Djuadi, Deni Rahman, Ervance ‘Havefun’ Dwiputra, Fitri DK, Hestu Setu Legi, Ipeh Nur, Isrol Triono (Media Legal), Ignasius Dicky Takndare, Julian ‘Togar’ Abraham, Maryanto, Muhammad ‘Ucup’ Yusuf, Naomi Srikandi, Needle and Bitch, Onyenho, Pandai Api Sebumi, Prihatmoko Moki, Rangga Lawe, Satoto Budi Hartono, Timoteus Anggawan Kusno, Yudha Sandy.

Kevin van Braak (the Netherlands, 1975) lives and works in Amsterdam. He has participated in a number of exhibitions, including the triennial SONSBEEK ’16: transACTION in Arnhem, the Netherlands (curated by ruangrupa, 2016); Kunstverein Salzburg, Austria (2015); Sismografo, Porto, Portugal (2014); the Museum of Contemporary Art, Belgrade (2014), amongst others.

http://www.cemeti.org/files/gimgs/th-22_IMG_8027-1.jpg
http://www.cemeti.org/files/gimgs/th-22_IMG_8042.jpg
http://www.cemeti.org/files/gimgs/th-22_IMG_8203-1.jpg
http://www.cemeti.org/files/gimgs/th-22_Schermafbeelding 2017-05-23 om 13_03_28.png
http://www.cemeti.org/files/gimgs/th-22_IMG_7988.jpg
http://www.cemeti.org/files/gimgs/th-22_IMG_8205-1.jpg
http://www.cemeti.org/files/gimgs/th-22_Schermafbeelding 2017-05-23 om 13_04_02.png
http://www.cemeti.org/files/gimgs/th-22_IMG_8204-1.jpg
http://www.cemeti.org/files/gimgs/th-22_IMG_8053.jpg
http://www.cemeti.org/files/gimgs/th-22_Schermafbeelding 2017-05-23 om 13_07_02.png